|
Monday, 01 June 2009 |
Berbicara Pemilu tentu tidak lepas dari bahasan tentang demokrasi. Pemilu sedemikian pentingnya bagi demokrasi, sehingga mendapat label sebagai ajang pesta demokrasi. Secara yuridis maupun ketatanegaraan telah banyak yang mendiskusikan hubungan demokrasi, pemilu, dan perilaku politik yang ada di dalamnya. Namun bagaimana Islam berbicara tentang Demokrasi dan Pemilu serta seluk beluk di dalamnya. Berikut wawancara reporter Pesantren UII bersama Ustadz. Muhammad Roy, MA., pengasuh Pondok pesantren Universitas Islam Indonesia. |
|
Baca lebih lanjut...
|
|
|
Saturday, 30 May 2009 |
|
Dalam Nicomachaean Ethic, Aristoteles ketika berbicara tentang teori etikanya, membedakan kebijaksanaan menjadi dua macam, pertama, bijaksana secara teoritis (sophous), yaitu kebijaksanaan yang hanya ada dalam taraf ide, teori saja tanpa termanifestasikan dalam tingkah laku. Artinya, baik sercara sophous itu hanyalah kebaikan yang dimiliki manusia hanya sebatas teori, sedangkan tingkah lakunya tidak menunjukan nilai-nilai yang ada dalam teori tersebut. Aristoteles mencontohkan Anaxagoras dan Thales sebagai orang yang bijaksana secara sophous, mereka bijaksana dan baik secara teoritis, tetapi tidak secara prkatis karena tingkah lakunya tidak mencerminkan kebijaksanaan. Apa yang telah mereka kuasai hanyalah sekedar teori belaka, “tidak bermanfaat” dan mempengaruhi tingkah lakunya. Kebijaksanaan teoritis (sophous) dapat dicapai dengan belajar atau pengajaran, maka yang dibutuhkan adalah pengalaman dan waktu. Kedua, bijaksana secara praktis (phronimous), yaitu kebijaksanaan yang bukan hanya sebatas teori tetapi terimplementasikan dalam perbuatan dan tingkah laku.
|
|
Baca lebih lanjut...
|
|
|