Pondok Pesantren UII Yogyakarta

Pertolongan untuk 7 Golongan Cetak E-mail
Ditulis oleh Yevi Yusnanda Usman   
Sunday, 11 December 2011
“Jika Allah menolong kamu, maka tidak ada orang yang dapat mengalahkan kamu; jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu? Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal.” (Q.S. ‘Ali ‘Imran [3]: 160)

Saat ini, kita berada dalam negeri yang terus mendapatkan ujian dari Allah SWT. Kita sadar bahwa segala musibah yang menimpa adalah teguran langsung dari Allah SWT -Pencipta alam semesta- atas segala kemungkaran yang ada di negeri tercinta ini. Mengapa ini semua bisa terjadi? Padahal Indonesia merupakan negara berkomunitas muslim terbesar di dunia. Kalau kita ingin mempelajari dan mendalami bagaimana hakikat keindahan yang ada dalam agama Islam, dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari, maka yakinilah bahwa Indonesia akan menjadi negara yang disegani dan dihormati oleh dunia. Disegani bukan karena kekuatan militernya yang tidak terkalahkan, dan juga bukan karena sumber daya alam yang menggiurkan. Indonesia akan disegani karena keindahan pribadi-pribadi muslim dan pemerintahan yang adil dan jujur terhadap amanahnya.

Keragaman budaya Indonesia, kekayaan yang melimpah, dan alamnya yang begitu indah, seharusnya menjadikan kehidupan dan kepribadian kita lebih indah. Lautan Indonesia yang begitu indah, seharusnya menjadikan kita lebih indah, dengan kesopanan kita. Alam Indonesia yang begitu kaya, seharusnya menjadikan kita lebih kaya dengan ilmu. Tetapi, realitas berbicara sebaliknya. Pembunuhan tidak mengenal moralitas, korupsi tidak mengenal kasih sayang, pencurian tidak mengenal siang-malam, dan juga berbagai kriminal lain yang selalu menghantui kehidupan.

Islam yang kita anut adalah satu-satunya agama yang benar di sisi Allah SWT (Q.S. ‘Ali ‘Imran [3]: 19). Islam adalah agama yang menjunjung tinggi ketentraman dan kesejahteraan. Islam mengajarkan kebersihan. Islam mengajarkan keindahan dan kesucian. Shalat lima waktu merupakan contoh konkrit yang menunjukkan Islam sebagai agama yang tentram dan penuh kesucian. Sebelum kita melakukan shalat, kita diharuskan untuk berwudhu dahulu. Tetapi, fakta di lingkungan sekarang, masyarakat Indonesia kesulitan untuk mencari tempat yang bersih. Bahkan mungkin tempat shalat pun masih kurang meyakinkan kesuciannya.

Islam juga menjunjung tinggi kejujuran. Tetapi, kenapa korupsi masih merebak dimana-mana? Percaya atau tidak keterpurukan ini disebabkan oleh penduduknya yang mengaku Islam secara lisan namun no action, alias NATO (no action talk only), “hanya berkata tanpa berbuat”. Ini mungkin titel yang cocok bagi muslim sekarang ini. Mengapa demikian? Kita masih canggung untuk menuntut ilmu islami, dan masih banyak yang belum mengenal akan hakikat keindahan Islam itu sendiri. Karenanya, sudah menjadi kewajiban kita untuk mencari pertolongan Allah SWT dan menyerahkan diri pada-Nya agar hidup menjadi lebih berarti.
Dalam sebuah hadits shahih, dari Abu Hurairah RA berkata bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda: “Ada 7 golongan yang akan mendapat perlindungan Allah SWT pada hari kiamat kelak, yang tiada perlindungan kecuali perlindungan-Nya. Mereka adalah pemimpin yang adil; anak muda yang senantiasa beribadah kepada Allah SWT; seseorang yang hatinya senantiasa dipertautkan dengan masjid; dua orang yang saling mencintai karena Allah, yakni keduanya berkumpul dan berpisah karena Allah; seorang laki-laki yang ketika dirayu oleh seorang wanita bangsawan nan rupawan lalu ia menjawab, “Sungguh aku takut kepada Allah”; seseorang yang mengeluarkan shadaqah lantas disembunyikannya hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diperbuat tangan kanannya; dan seseorang yang berdzikir kepada Allah di tempat yang sunyi kemudian ia mencucurkan air mata.” (H.R. Bukhari Muslim).

Pertama, menjadi pemimpin yang adil tidak semudah. Butuh banyak pengorbanan dan perjuangan. Dalam ajaran Islam, kepemimpinan bukanlah fasilitas untuk mencari keuntungan dan kebahagiaan, tetapi sebuah amanah yang harus dipertanggungjawabkan. Seseorang yang menganggap kepemimpinan sebagai fasilitas pencari kebahagiaan, maka kemungkinan besar ia akan memanfaatkan segala kepemimpinan itu sebagai sarana memperkaya diri. Sebaliknya, jika seseorang menganggap kepemimpinan itu sebagai amanah yang akan dimintakan pertanggungjawaban di akhirat maka secara spontan ia akan melaksanakan kepemimpinan itu dengan penuh kejujuran dan tanggung jawab. Namun, sekali lagi hal itu tidaklah mudah. Karenanya, kita harus belajar menjadi seorang pemimpin yang adil. Sebagai hadiahnya, Insya Allah perlindungan-Nya di akhirat kelak kita dapatkan.   
 
Kedua, seperti kata raja dangdut, Rhoma Irama, “Masa muda adalah masa berapi-api.” Masa muda merupakan “masa emas”. Pada masa ini, kondisi fisik seseorang masih sehat bugar. Namun, harus kita akui pula bahwa ujian pada masa muda itu cukup berat. Karenanya, apabila ada pemuda yang mampu melewati masa mudanya dengan taqarrub ila Allah (mendekatkan diri pada Allah SWT) dan mampu menjauhkan diri dari pelbagai godaan yang menyesatkan maka sudah sejatinya Allah akan memberikan naungan-Nya pada hari kiamat kelak. Ini merupakan imbalan dan penghargaan yang diberikan Allah kepada para pemuda yang mendapatkan gelar kesalehannya. Semoga kita menjadi salah satu di antara mereka.    
 
Ketiga, masjid adalah rumah Allah di dunia ini. Dalam kalimat, “Seseorang yang hatinya senantiasa dipertautkan dengan masjid,” seperti bunyi hadits di atas, maka paling tidak kalimat ini menunjukkan dua pemahaman. Pertama, yaitu orang-orang yang kapan dan dimanapun, selalu ingin memakmurkan masjid. Kedua, orang-orang yang tidak pernah melalaikan ibadah kepada Allah SWT meski di tengah kesibukan. Dan lagi-lagi sudah sewajarnya dia mendapatkan perlindungan Allah SWT di akhirat kelak atas prestasinya ketika hidup di dunia.

Keempat, pada poin ini, saya mengambil kalimat, “Dua orang yang saling mencintai karena Allah, yaitu keduanya berkumpul dan berpisah karena Allah.” Maksudnya, yaitu kita mencintai seseorang atau membencinya bukan karena harta kekayaan, jabatan, atau hal lain yang bersifat material, namun semata-mata karena Allah SWT. Kalau saudara kita berbuat baik, maka kewajiban kita adalah memberi dukungan kepadanya. Dan jika dia berbuat salah, maka kita perlu mengingatkannya. Bahkan kita boleh pergi meninggalkannya jikalau dia berbuat suatu hal yang akan menjerumuskan kita kepada kenistaan/kemungkaran. Inilah yang dimaksud dengan menjalin hubungan persaudaraan karena Allah.    
 
Kelima, pada kalimat, “Seorang laki-laki yang ketika dirayu oleh wanita bangsawan lagi rupawan, lalu ia menjawab: ‘Sungguh aku takut kepada Allah.’” Kalimat ini menggambarkan bahwa jika kita mampu menghadapi godaan syahwat dari lawan jenis, maka kita akan mendapatkan naungan dari Allah SWT di hari kiamat nanti. Dalam hadits ini, tergambar seorang laki-laki yang digoda oleh seorang wanita bangsawan nan rupawan tapi menolak ajakannya bukan karena tidak selera kepada wanita atau tidak normal, akan tetapi dia takut kepada Allah SWT karena hubungan mereka belum legal. Jadi, rasa takut kepada Allahlah yang menjadi benteng kokoh bagi laki-laki tersebut, sehingga tidak terjatuh ke lembah kehinaan. Karena itu, Allah memberikan penghargaan kepadanya pada hari kiamat nanti dengan pertolongan-Nya.

Keenam, “Seseorang yang mengeluarkan sedekah lantas disembunyikannya sampai-sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diperbuat tangan kanannya.” Ini merupakan gambaran tentang keikhlasan dalam beramal. Karena keikhlasannya dalam beramal sampai tangan kiri pun seolah tidak tahu apa yang diinfakkan atau disumbangkan oleh tangan kanannya. Maksud hadits ini adalah seseorang yang beramal (bersedekah) dengan penuh keikhlasan. Tetapi, tidak dapat disalahkan jika kita ingin memperlihatkan kepada orang lain dengan maksud untuk memotivasi orang lain untuk melakukan kebaikan juga. Hal ini sesuai dengan firman-Nya pada surat al-Baqarah ayat 271: “Jika kamu menampakkan sedekahmu, maka itu baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikannya itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan kamu dari sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.”  
   
Ketujuh, “Seseorang berdzikir kepada Allah SWT di tempat yang sunyi, kemudian ia mencucurkan air mata.” Dzikir itu sendiri artinya mengingat Allah. Kalau seseorang berdo’a kepada Allah SWT dengan penuh kekhusyukan, sehingga tidak terasa air mata menetes karena sangat nikmatnya dia dalam berzikir dan bermunajat kepada-Nya, maka dia akan menjadikan mendapatkan naungan dari Allah SWT pada hari kiamat kelak.

Sebagai penutup, mari kita niatkan hidup ini untuk mengharapkan ridha Allah SWT. Semoga kita semua termasuk orang-orang yang mendapatkan naungan Allah SWT di akhirat kelak, karena kita tahu bahwa pada hari kiamat itu tidak ada naungan kecuali hanya naungan Allah SWT. Karena itu, sekarang adalah kesempatan kita untuk melengkapi apa-apa yang masih menjadi kekurangan dalam ibadah kita, senyampang masih diberikan umur dan kekuatan untuk menjalankan kehidupan di dunia. Wallâhu a’lamu bi ash-shawâb. []

*Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Ekonomi
Universitas Islam Indonesia, angkatan 2011.


Artikel dapat di download disini


 
< Sebelumnya   Berikutnya >

Advertisement

::KATA MUTIARA ::

Impian tidak akan terwujud dengan sendirinya, tetapi kamu harus cepat bangun dan berupaya mewujudkannya.

Kesempatan yang kecil merupakan permulaan kepada usaha yang besar.

Jika kita mencintai seseorang, kita akan senantiasa mendoakannya walaupun tidak berada disisi kita.

cinta sejati adalah ketika dia mencintai orang lain, dan kamu masih bisa tersenyum, sambil berkata :"Aku turut bahagia untukmu".

Kebahagian yang sempurna adalah ketika kita mendapatkan apa yang kita inginkan tanpa menyakiti perasaan orang lain.