Pondok Pesantren UII Yogyakarta

Melihat Tuhan Dalam Diri Wanita Cetak E-mail
Ditulis oleh Aulia Dian Perdana   
Thursday, 12 February 2009

Pengarang/ Penyusun

Muhammad Roy

 

Penerbit

Pondok Pesantren UII

 

Cinta kepada Allah itu api
apapun yg dilewatinya akan terbakar
Cinta kepada Allah itu cahaya
apapun yg dikenainya akan bersinar
Cinta kepada Allah itu langit
apapun yg dibawahnya akan ditutupinya
Cinta kepada Allah itu angin
apapun yg ditiupnya akan digerakkannya
Cinta kepada Allah itu air
dengannya Allah menghidupkan segalanya
Cinta kepada Allah itu bumi
dari situ Allah menumbuhkan semuannya

Cinta Kepada Allah

Adalah puncak segala cinta

Di haribaannya semuanya tunduk dan luruh

 

          Segala puji bagi Allah yang telah mebimbing dan memberikan kekuatannya, sehingga bisa terselesaikan buku ini. Shalawat dan salam smoga tercurahkan kepada Muhammad putra Abdullah, buah hati Aminah yang telah memberikan secercah harapan, yaitu din al-Islam.

            Pada awalnya, saya sebenarnya merasa malu untuk mempublikasikan tulisan-tulisan ini, karena sebenarnya ini hanyalah “catatan harian” terhadap berbagai persoalan yang secara kognitif dan intuitif menghentak rasio dan spiritualitas saya. Terkadang tulisan  muncul hanya karena saya mendaki gunung, teman cerita tentang problem kegundahan menjelang perkawinannya, kekecewaan hati saya, dan pemikiran liar dikala merenung seorang diri. Jadi, hampir tidak dibuat secara sistematis, ilmiah dan berdasarkan target waktu tertentu, hanya mengalir saja mengikuti kehendak hati kapan mood untuk menulis. Namun suatu ketika, istri saya menemukan coretan-coretan saya tersebut, dan menyarankan untuk mempublikasikannya. Menurut istri saya, tulisan reflektif ini layak untuk dibaca orang, karena tidak selamanya tulisan itu harus ilmiah dengan disertai catatan kaki berjibun, hasil refleksi diri itulah malah sebenarnya orisinalitas pemikiran penulisnya. Lebih dari itu, bukankah dengan mempublikasikan tulisan juga berarti berdakwah kepada sesama juga.

            Setelah itulah, maka saya kumpulkan kembali catatan-catatan yang terserak yang saya tulis semasa masih menjadi "pengembara"; pengembara ilmu, pengembara spiritualitas, dan pengembara cinta di saat nyantri di Pondok Pesantren UII. Maka, terkumpulah beberapa tulisan yang pada akhirnya dalam bentuk buku yang ada di tangan pembaca sekalian.

            Tulisan-tulisan dalam buku ini, sebenarnya saya maksudkan agar kita tidak melihat sesuatu dari satu sisi saja, tetapi banyak sisi. Suatu hal tidak difahami hanya dari pandangan lahiriyah, tetapi batiniyah. Sesuatu bukan hanya dilihat dari logika linier, tetapi dari logika paradoksal. Melihat sesuatu dengan ”mata Tuhan” yang holistik, dan integral, sehingga tidak tertipu, tidak pernah emosi dan tidak pernah berburuk sangka pada Sang Khaliq. Semuanya mengandung hikmah, manfaat, dan pelajaran yang berharga dalam kehidupan ini. Misalnya, dosa dari satu sisi memang sebuah kesalahan, namun bisa jadi malah merupakan awal pemantik selaksa pahala, karena setelah itu, pelakunya bertaubat dan beramal baik lebih banyak lagi, sehingga saya mengistilahkannya dengan ”dosa barokah”.

Dengan cara pandang seperti ini, maka kita akan menjadi lebih arif dalam melihat semua kejadian di muka bumi. Kita tidak memandang sebelah mata kepada para pendosa, tetapi kita juga tidak terlalu kagum kepada para Abid pengumpul pahala. Kita tidak terlalu sedih karena suatu musibah menimpa, tetapi juga tidak terlalu bergembira karena suatu kenikmatan yang dirasa. Hal ini karena kedua kutub yang berseberangan tersebut, sebenarnya tipis sekali jaraknya, hampir sama, dan sulit untuk berbeda.    

            Kisah yang diceritakan oleh Syekh Ibn Athaillah, dalam kitab tasawufnya yang terkenal al-Hikam, memberikan pelajaran bagi kita bahwa jarak antara pahala dan dosa, ahli ma’syiat dan abid adalah tipis sekali.  Ibn Athaillah menukil al-Sya’bi, menceritakan bahwa suatu hari ada seorang ahli ibadah (abid) dari Bani Israil yang begitu dekat dengan Allah. Kewaliannya diakui oleh semua orang. Salah satu karamah yang membuktikan kewaliannya adalah kemanapun ia pergi selalu dinaungi oleh awan. Suatu saat ketika ia berjalan dalam suatu pengembaraan, didatangi oleh seorang pelacur. Dalam hati pelacur tersebut terbersit suatu harapan bahwa dengan mendekati Sang Wali ini, maka ia yang penuh noda dosa ini akan ketularan rahmat dan maunah Allah. Hatinya bergemuruh penuh keinginan semoga Allah masih sudi memberinya rahmat melalui berkah kewalian syeih  tersebut. Dengan penuh tawadlu, rasa takut (khauf) dan harapan (raja') pelacur tersebut mendekati Sang Wali dan menghiba kepadanya. Namun yang terjadi adalah, wali abid yang alim tersebut dengan rasa sombong dan keangkuhan-karena merasa lebih suci dan dekat dengan Tuhan- mengusir wanita pelacur yang penuh dosa itu. Ia merasa dirinya terlalu suci untuk sekedar berdekatan denga pelacur tersebut. Maka seketika itu juga, tanpa dinyana-nyana awan yang selalu menaungi syeh tersebut berpindah tempat menjadi menaungi  sang pelacur dan mengikutinya kemanapun ia pergi. Seketika itu juga, derajat kewalian milik syekh tersebut berpindah kepada sang pelacur. Hal ini terjadi karena Sang Syekh berlaku sombong dan takabur, sementara sang pelacur yang penuh dosa, berlaku tawadhu’, takut, dan mengakui kesalahannya.

            Dengan diterbitkannya buku ini, saya harus mengucapkan terimakasih kepada pihak-pihak yang telah membantu dan memberi inspirasi bagi tulisan-tulisan di buku ini.

            Kepada teman-teman Pondok Pesantren UII, khususnya angkatan pertama (1996), terimakasih atas  fastabiqul khairatnya”, kita selalu berlomba untuk menjadi yang terbaik, terbaik dalam berprestasi, berkarir, dan mencari istri.

            Kepada santri-santri sekarang, terus berjuang, berkarya, dan mengembara. Jangan pernah berhenti walau sejenak, sampai engkau mampu merengkung “sang bidadari”.

            Civitas akademika di Universitas Islam Indonesia (UII) dan Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur’an (STIQ) An-Nur Yogyakarta. Terimakasih atas rekomendasi-rekomendasi dan dukungan finansialnya.

            Kepada kedua orang tua, terimakasih atas tempaannya selama ini. Tanpa budi baik kalian berdua, saya tidak bisa menjadi apa-apa. Allahumma ighfir li waliwalidayya warhamhuma kama rabbaya ni shaghira.

            Kepada istriku tercinta, dinda Rufi’ah, terimakasih atas segalanya, yang merelakan waktu-waktu mesra kita terkurangi untuk tafakkur, tadzakkur, dan menulis. Smoga itulah yang malah akan menjadi bumbu penyedap dalam kehidupan rumah tangga kita.   

            Terakhir, tiada gading yang tidak retak, tiada manusia yang luput dari kesalahan, karena mempunyai kesalahan itulah maka disebut manusia. Buku ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karenanya, saya mohon maaf atas segala kesalahan disengaja atau tidak. Idza tamma syaiun bada naqshuhu

Sebagai penutup kata pengantar, saya nukilkan cerita Syeh Abdul Qadir al-Jilani, semoga kita bisa mengambil hikmah darinya. Suatu saat, Abdul Qadir dengan sengaja memakan sisa makanan seorang pencuri, karena ingin mengambil berkahnya. Murid-muridnya yang mengetahui itu merasa heran, lantas bertanya pada Abdul Qadir,: “wahai Syekh, apa yang melatarbelakangi engkau berbuat seperti ini, bukankah engkau seorang Waliyullah, sementara dia hanyalah seorang pencuri?”. Abdul Qadir lantas berkata: “wahai murid-muridku, aku mengharapkan berkah dan menghormati pencuri tersebut karena tidak ada yang mampu menjamin bagaimana nasib kita kelak di kemudian hari; Aku menghormati pencuri pendosa, karena siapa tahu kelak dia bertaubat, sementara di akhir hayat aku banyak berbuat ma’siat; Aku menghormati anak kecil, karena dia belum pernah berbuat dosa, sementara aku sudah; Aku menghormati orang yang lebih tua, karena dia lebih dahulu beribadah kepada Allah daraipada aku; Aku menghormati orang bodoh, karena ia bermaksiat kepada Allah dengan kebodohannya, sementara aku ma’siat kepada Allah dengan ilmuku; Aku menghormati orang kafir, karena siapa tahu diakhir hayat dia menjadi musllim, sementara aku menjadi kafir”.

Wallahu a’lam bi al-shawab

 

 
< Sebelumnya   Berikutnya >
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
 

::KATA MUTIARA ::

''Sesungguhnya sebagian perkata itu ada yang lebih keras dari batu, lebih pahit daripada jadam, lebih panas daripada bara, dan lebih tajam dari pada tusukan.sesungguhnya hati adalah ladang, maka tanamlah ia dengan perkataan yang baik, karena jika tidak tumbuh semuanya niscaya akan tumbuh sebagian'' (Al Haditz)

"Seseorang melihat kebaikan dalam berbagai hal berarti memiliki pikiran yang baik. dan seserang yang memiliki pikiran yang baik mendapatkan kenikmatan dari hidup"(Bediuzzamn Said Nur)

"Manusia yang paling lemah adalah ialah orang yang tidak mampu mencari teman. namun yang lebih lemah dari itu ialah orang yang mendapatkan banyak teman tetapi menyia-nyiakanya" (Ali bin Abi Thalib)

"Berbahgialah siapa yang selalu ingat akan hari akhir, beramal untuk menghadapi hari penghitungan dan merasa puas dengan ala kadarnya. sementara ia ridha sepenuhnya dengan pemberian alloh"(Syadina Ali R.A)

Sebaik-baik manusia itu, adalah yang terlebih baik budi pekertinya dan yang lebih bermanfaat bagi manusia.