Fauzi Wahyu Zamzami

Mengapa kita selalu membutuhkan hujan ? mengapa kita harus gagal ? pada tulisan ini saya akan mencoba untuk menggantikan rangkaian kalimat ini dengan mengapa kita harus melewati pengalaman gagal ini ?

Pernahkah anda melihat sebutir berlian mentah ? saya yakin jika sekarang ini kita berhadapan dengan berlian mentah, banyak yang tidak akan mengenalinya. Ia hanya terlihat seperti sebutir batu biasa yang kasar. Anda yang pernah membaca buku Acres of Diamonds karya Russell H. Conwell tentu akan sangat setuju dengan pendapat saya. Dalam buku tersebut dijelaskan bahwa Ali, pemeran utamanya telah meninggalkan berhektar-hektar berliannya untuk mencari berlian di tempat lain hanya karena dia tidak mengetahui bentuk berlian mentah yang lain. Masalahnya adalah bagaimana batu kasar ini dapat berubah menjadi berlian yang cantik dan sangat digemari oleh setiap wanita ? salah satunya dengan mengasahnya. Berlian mentah perlu diasah, digosok dengan gesekan yang keras berulang kali sehingga ia menjadi berlian yang cantik seperti yang sering anda lihat dalam lemari perhiasan. Begitu pula halnya yang terjadi dengan kita semua. Kita perlu diasah melalui berbagai rintangan, waktu-waktu sukar, waktu-waktu yang menyakitkan sebelum kehebatan yang ada dalam diri kita nampak.

Terkadang kita memandang sesuatu berdasarkan apa yang kita pikirkan dan menjerumuskan kita kepada hal-hal negatif. Hal yang biasanya ingin kita coba akhirnya hilang tanpa ada jejak sedikit pun. Saya selalu menanamkan satu kalimat dalam diri saya yaitu berani mengawali, berani mengakhiri. Kalimat tersebut selalu ada dalam diri saya walaupun kegagalan menghantam diri saya, tapi keyakinan yang kuat selalu ada pada diri saya untuk bisa mencapai apa yang saya inginkan. Pada suatu masa, dua orang pembantu Thomas Alva Edison yang kecewa berkata “Kami baru saja menyelesaikan uji coba kami yang ketujuh ratus dan kamis masih belum mendapatkan jawabannya. Kami telah gagal”. Lalu Edison menjawabnya “Tidak sahabatku, kamu belum gagal, hanya kita yang lebih mengetahui tentang hal ini daripada orang lain. Dan kitalah yang lebih hampir mendapatkan jawabannya karena kini kita tahu tujuh ratus hal yang tidak sepatutnya kita perbuat. Janganlah menganggapnya kegagalan, anggaplah sebagai sebuah pelajaran”. Pada dasarnya orang yang gagal dalam hidupnya adalah orang yang gagal untuk belajar. Mungkin kita semua dapat bayangkan apabila pada percobaan yang beberapa kali gagal dan tercatat 999 kali gagal, apabila Edison menyerah maka bola lampu yang saat ini kita pakai mungkin tidak akan ada.

Arti sebuah kegagalan mulai dihargai sebagian besar organisasi yang berpikiran jauh ke depan dan mendalam. Banyak perusahaan multinasional hari ini yang mencari para pengusaha yang gagal untuk diambil menjadi anggota perusahaannya. Hal ini disebabkan mereka telah mendapat pelajar dari kegagalan untuk menjadikan mereka manajer perdagangan yang baik. Kita bisa melihat contohnya yaitu Negara Amerika yang mempunyai jumlah paling banyak perusahaan baru yang dibuka setiap tahun. Negara itu juga mencatatkan jumlah terbesar perusahaan yang ditutup setiap tahunnya, dan bagi mereka tidak ada yang memalukan jika mencoba dan gagal. Hal yang memalukan adalah ketika kita tidak mencoba sama sekali. Untuk itu, begitulah awal mulanya lembah silicon yang akhirnya menjadi magnet yang mampu menarik semua perusahaan di bidang computer dan elektronik.

Dengan demikian, perjuangan hidup, kegagalan, penderitaan, dan siksaan merupakan suatu hal yang sangat dibutuhkan dalam hidup manusia ketika dia ingin menjadi seseorang yang hebat. Hargailah sebuah kegagalan karena ketika kita memiliki kegagalan maka kegagalan tersebut akan menjadi penyempurnaan bagi seorang manusia. Sebagaimana ada kata mutiara yang selalu terngiang di kepala saya yaitu “Jika anda telah mencoba dan menemui kegagalan, jika anda telah merencanakan untuk melakukan sesuatu dan rencana anda hancur berkeping-keping di depan mata, maka ingatlah bahwa semua tokoh-tokoh hebat dalam sejarah di dunia ini menjadi terkenal karena keberanian, dan tahukah anda bahwa keberanian itu lahir dalam masa kesusahan.”

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *