Kamis, 5 Maret 2020 santri putra Pondok Pesantren Universitas Islam Indonesia melaksanakan Focus Group Discussion sebagai bagian dari program kerja yang dimiliki oleh divisi Pengembangan Sumber Daya Santri (PSDS). Selama jalannya diskusi, santri dibagi menjadi 4 kelompok yang kemudian diberikan waktu untuk mendiskusikan seberapa besar kesiapan Indonesia dalam menghadapi Virus Corona.

Berbagai macam permasalahan dan argument yang diangkat oleh masing-masing kelompok dan 3 dari 4 kelompok yang hadir menyatakan bahwa Indonesia belum siap menghadapi Virus Corona. Hal tersebut bisa dilihat dari kesiapan mental yang dimiliki oleh masyarakat ketika pasien positif Virus Corona pertama kali diumumkan oleh Presiden Jokowi, berselang beberapa jam kemudian terjadi panic buying di beberapa pasar swalayan dan tradisional di Jakarta yang kemudian diikuti oleh panic buying di beberapa kota lainnya. Panic buying tersebut merembet terhadap langka nya jumlah masker di pasaran hingga beberapa oknum yang memanfaatkan momentum ini untuk menaikkan harga masker dan meraih keuntungan di tengah musibah yang saat ini melanda Indonesia.

Masyarakat juga dinilai terlalu mudah termakan oleh isu-isu yang beredar di social media seputar Virus Corona sehingga rentan terjadi politisasi terhadap isu Corona yang dilakukan oleh beberapa pihak yang tidak bertanggung jawab. Oleh karena itu, perlu adanya sikap saring sebeum saring agar isu-isu hoax tidak menyebar dengan begitu bebas di tengah virus Corona yang saat ini melanda Indonesia. Selain melawan isu hoax, masyarakat juga diingatkan agar tidak menyalahkan dan mendiskriminasi suatu etnik tertentu sebagai penyebar Virus Corona agar kesatuan dan persatuan bangsa tetap bisa terjalin dan semua lapisan masyarakat mampu membantu pemerintah dalam memerangi Virus Corona.

Selain kesiapan yang dimiliki oleh masyarakat, para santri juga menyoroti kurang siap nya pemerintah dalam menghadapi Virus Corona. Hal tersebut terlihat dari kesiapan rumah sakit yang ada di Indonesia, pemerintah menyiapkan 100 rumah sakit rujukan sedangkan jumlah penduduk Indonesia mencapai lebih dari 200 juta jiwa. Dalam diskusi ini juga, para santri mengharapkan agar BPJS memberikan anggaran lebih  dalam memberikan pelayanan kesehatan menghadapi virus Corona khususnya bagi masyarakat yang kurang mampu dalam membayar biaya pengobatan. Diagnosa yang dilakukan oleh pemerintah terhadap WNI yang baru tiba dari Wuhan pun menjadi salah satu sorotan, karena pemerintah terlihat lebih mengutamakan tindakan untuk memperkuat imunitas masing-masing WNI alih-alih mendiagnosa kemudian memisahkan WNI yang terinfeksi dan tidak terinfeksi kasus Corona.

Pemerintah yang beberapa hari yang lalu sempat mencanangkan wacana untuk meminta bantuan influencer bahkan menyiapkan anggaran khusus untuk kampanye pariwisata di Indonesia guna mendongkrak kembali pereknomian diharapkan agar mampu berbenah dan lebih mengutamakan keselamatan warganya, karena ketika seluruh warga sudah bisa diamankan dari dampak virus Corona, maka dampak ekonomi pun bisa diatasi secara bersama-sama melalui sinergi antara masyarakat dan pemerintah. Akses dari dan ke luar negeri seharusnya bisa benar-benar di tutup guna melindungi warga dari virus Corona yang dibawa warga negara asing, agar tidak terjadi lagi masuknya WNA terinfeksi Virus Corona yang kemudian berdampak pada tersebarnya virus di Corona di Depok beberapa hari yang lalu.

Terhitung, hanya ada satu kelompok yang merasa bahwa Indonesia siap dalam menghadapi Corona, hal tersebut terlihat dari pengalaman Indonesia menghadapi virus-virus lain yang sudah pernah menyebar sebelum adanya Corona seperti Virus SARS dan MER-C. Masyarakat pun dihimbau untuk memperkuat daya tahan tubuh dengan makan makanan yang sehat dan bergizi, berolahraga dan tidur yang cukup agar tidak mudah terserang Virus Corona.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *