مَا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ (ق: 18)
apapun yang mereka ucapkan selalu ada di sampingnya malaikat penjaga yang mengintai (Qaf: 18)

 

Seorang sahabat pernah bercerita, bahwa di Indonesia ada dua lembaga yang punya alat penyadap canggih: BIN dan KPK. Target yang telah diidentifikasi gelombang suaranya, kemanapun pergi bisa disadap pembicaraannya, meskipun handphone miliknya dimatikan. Benda-benda metal di sekitarnya bisa dijadikan receiver percakapan mereka, dan terekam dengan sangat jelas pembicaraan mereka. Dengan alat itu, rata-rata orang yang diselidik ketika sudah tertangkap tangan jarang ada yang bisa lepas. Dulu berita penangkapan koruptor oleh KPK sering kali terdengar, kini memang berita itu sudah jarang sekali terberitakan, mungkin memang korupsinya sudah jauh berkurang (he he he). Atau justru target telah memiliki alat canggih sama yang dapat mengacaukan gelombang suara.

Jikalau manusia saja sudah mampu menciptakan alat perekam yang canggih tersebut, maka ketika informasi Quran yang kita yakini kebenarannya memberitakan bahwa seluruh amal manusia akan tercatat, bahkan yang terbetik dalam hati, betapa dahsyatnya alat perekam yang disiapkan oleh Allah untuk seluruh hidup manusia. Sejak kecil kita diajari bahwa setiap manusia selalu diawasi oleh dua malaikat, yaitu Malaikat Raqib pencatat kebaikan, dan Malaikat ‘Atid pencatat keburukan. Malaikat Raqib dan ‘Atid itu dapat kita pahami sebagai mekanisme rekaman dahsyat yang disiapkan Allah untuk mencatat seluruh amal manusia, bahkan yang tersembunyi sekalipun.

Bukan hanya malaikat yang merekam, benda-benda mati di sekitar kita menjadi saksi dan perekam yang dahsyat dari perbuatan kita. Benda mati ini tentu dalam perspektif kita, karena hakekatnya semua benda di hadapan Allah adalah hidup dan bertasbih kepada-Nya. Sabbaha lillahi ma fi al-samawati wa ma fi al-ardh (semua yang ada di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah). Di ayat lain, tujuh lapis langit dan bumi serta benda-benda yang ada di antaranya aktif bertasbih, tetapi manusia tidak mengetahui (mendengar) tasbihnya:

تُسَبِّحُ لَهُ السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ وَالْأَرْضُ وَمَن فِيهِنَّ ۚ وَإِن مِّن شَيْءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَٰكِن لَّا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ ۗ إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا (الإسراء: 44)

Seluruh langit dan bumi dengan segala isinya, semua menyucikan Allah. Semua makhluk bertasbuh memuji-Nya, namun kamu tidak mengerti tasbih mereka. Allah sungguh Maha Penyantun lagi Maha Pengampun (QS. Al-Isra: 44).

Tentang aktifnya benda-benda bertasbih ini, secara mengesankan dapat kita pahami penelitian ilmiah yang dilakukan Masharu Emoto atas respon air terhadap kalimat-kalimat yang diucapkan kepadanya. Kata-kata indah membuat kristal-kristal air dalam gambaran mikroskopik terlihat sangat indah, begitu pula sebaliknya. Penelitian ini lagi-lagi menunjukkan benda yang merekam perkataan dan perbuatan manusia. Bukan hanya benda yang kasat mata, udara yang ada di sekitar dan dihirup manusia sehingga dapat bernapas menjadi saksi terhadap semua pikiran dan perbuatan manusia.

Bukan hanya benda sekitar (tanah, air, api dan udara, avatar…), seluruh organ yang melekat dalam diri manusia itu sendiri menjadi recorder yang sangat canggih. Tangan, kaki dan kulit semua akan menjadi saksi di hadapan Allah. Al-yauma nakhtimu ‘ala afwahihim wa tukallimuna aidihim wa tasyhadu arjuluhum bima kanu yaksibun (pada hari itu Kami kunci rapat mulut mereka, tangan yang akan berbicara dan kaki bersaksi atas apa yang mereka perbuat) (QS. Yasin: 65).

Atas dasar pemahaman rekaman yang sangat dahsyat itu, kita bisa berimajinasi bahwa seluruh ucapan manusia yang pernah keluar dari lisannya, tidak ada yang hilang. Semua terekam dan melayang di udara sekitar kita. Hanya karena keterbatasan indera pendengaran manusia hanya mampu menangkap gelombang suara pada frekwensi tertentu, suara yang pernah keluar itu tidak mampu didengarnya lagi. Ketidakmampuan mendengar suara ini juga bagian dari rahmat Allah. Bisa dibayangkan andaikata seluruh suara masih bisa terdengar, betapa kacau komunikasi terjadi. Suara itu berdesak-desakan di antara suara-suara yang lainnya, dansemuanya akan terekam persis milik siapa suara itu di hadapan Allah. Sekali misuh (mengumpat), maka pisuhan itu akan terus ada dan melayang di udara. Begitupun sebaliknya, kalimat indah, dzikir dan baca Quran, akan terekam dalam udara di sekitar kita, dan menjadi bagian dari rekaman dahsyat di hadapan Allah. Rumah yang sering terdengar pisuhan disbanding lantunan Quran akan berbeda rasa dan auranya.

Seluruh rekaman perbuatan manusia itu dicatat dalam Quran disebut dengan Imamin Mubin (kitab induk yang terang).

إِنَّا نَحْنُ نُحْيِي الْمَوْتَىٰ وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ ۚ وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُّبِينٍ (يس: 12)

Sesungguhnya Kami yang akan menghidupkan kematian, dan Kami catat perbuatan lampau dan jejak mereka. Semuanya Kami himpun (catat) dalam kitab induk yang terang (imamin mubin) (QS. Yasin: 12).

Personifikasi catatan amal dalam sebuah kitab itu juga dapat ditemukan dalam ayat lain, misalnya surat

فَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِيَمِينِهِ فَيَقُولُ هَاؤُمُ اقْرَءُوا كِتَابِيَهْ  (الحاقة: 19)

Adapun orang yang diberikan kitab catatan dari tangan kanannya, Allah berfirman kepadanya “ayo segera baca kitabmu” (QS. Yasin: 12). Perintah membaca karena kegembiraan Allah terhadap hamba-Nya yang lolos ujian, menghadap kepadanya dengan amal yang padat berisi. Juga di QS. Al-Insyiqaq: 7-8.

فَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِيَمِينِهِ   فَسَوْفَ يُحَاسَبُ حِسَابًا يَسِيرًا (الإنشقاق: 7-8)

Adapun orang yang diberika kitab catatannya dengan tangan kanannya, kelak akan dihisab dengan hisab sangat mudah. (Al-Insyiqaq: 7-8)

 Atas dasar ayat-ayat itu, maka Imam Ghazali mencoba menghayati setiap gerakan wudhunya dengan diisi doa, salah satunya doa saat membasuh tangan kanan: Allahumma Atini kitabi biyamini wa hasibni hisaban yasira (ya Allah, berikan catatan kitabku dengan tangan kananku dan hisablah aku dengan hisab yang mudah).

Istilah rekaman amal dalam buku catatan (kitab) memang hakekatnya begitu ataukah itu lebih untuk mendekatkan (membumikan) pemahaman manusia bahwa lazimnya catatan adalah buku, wallahu A’lam. Bisa jadi istilah buku itu sekedar mendekatkan pemahaman supaya manusia mudah memahami bentuk rekaman dahsyat itu, karena manusia tidak mampu membayangkan selain yang pernah didengar dan dilihatnya. Hakekat rekamannya seperti apa tentu lebih dahsyat dari sekedar buku dalam pemahaman kita. Yang jelas, rekaman itu sangat dahsyat untuk menggambarkan betapa terbatasnya bahasa manusia menggambarkan hakekat rekaman perbuatannya. Wallahu A’lam.

 

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *