Pondok Pesantren Universitas Islam Indonesia melaksanakan seminar dengan tema “Tahun Baru Hijriyah Perspektif Astronomi, Spiritual, Pendidikan dan Sosial Masyarakat Muslim Nusantara” dalam rangka memperingati tahun baru Islam 1442 Hijriyah yang dilaksanakan pada hari Kamis, 20 Agustus 2020. Acara ini dimulai pada pukul 09:00 WIB hingga selesai dan dimeriahkan oleh 3 orang pemateri yakni Dr. M. Shofwan Jannah, M.Ag yang merupakan Dosen Prodi Syariah FIAI UII dan Anggota Badan Hisab Rukyah (BHR) Pusat & DIY, Dr. Asmuni, M.A selaku direktur Pondok Pesantren UII serta Ustadz Suyanto, M.S.I, M.Pd yang merupakan pengasuh Pondok Pesantren UII.

Acara ini diikuti oleh seluruh santri Pondok Pesantren UII secara luring maupun daring. Peserta yang mengikuti acara secara luring hadir di aula Pondok Pesantren UII dengan tetap melaksanakan protokol kesehatan yang ditetapkan oleh pemerintah guna mencegah penularan Covid-19. Sedangkan santri yang berada di luar Daerah Yogyakarta maupun yang berhalangan untuk hadir langsung, dapat mengikuti acara melalui zoom meeting.

Direktur Pondok Pesantren UII dalam sambutannya menjelaskan bahwa peringatan hari besar Islam sudah menjadi sebuah kultur bagi muslim di Indonesia maupun dunia. Situasi pandemi tidak menjadi penghalang untuk tetap memperingati hari besar Islam sesuai dengan prosedur pelaksanaan yang ditetapkan. “Kita juga harus menjadikan peringatan tahun baru hijriyah ini sebagai ajang Muhasabah dan Muroqobah. Muhasabah atas hal yang telah kita lewati selama tahun 1441 Hijriyah dan Muroqobah untuk hal-hal yang akan kita lakukan di tahun baru 1442 hijriyah ini” ujar ustadz Asmuni. Beliau juga menambahkan bahwa peringatan tahun baru hijriyah tidak boleh dimaknai dengan cara-cara yang ekstrim baik terlampau sedih maupun terlampau bahagia karena hal ini akan mengurangi esensi muhasabah dan muroqobah itu sendiri.

Materi tahun baru hijriyah dalam perspektif astronomi dan histori, Dr. M. Shofwan Jannah, M.Ag menjelaskan bahwa hadirnya tahun baru hijriyah ini merupakan sebuah contoh teladan Islam dalam pengelolaan pemerintahan dengan tertib administrasi yang jelas dan baik. Hal ini terjadi karena ketika penunjukkan Abu Musa Asy’ari sebagai seorang gubernur, terdapat kebingungan tentang tanggal penetapan dikarenakan ketiadaan tahun yang jelas di dalam surat yang ditulis oleh khalifah dengan hanya menyertakan bulan di dalam surat yang ditulis. Selain itu, beliau juga menyoroti isu haul zakat bisnis selama 15 abad yang jika diakumulasikan menjadi 1.200 tahun dari semua bisnis kaum muslimin di dunia yang menumpuk menjadi hutan peradaban yang sangat besar. “Atas dasar ini perlu adanya kepaduan dan keserentakan dalam memberlakukan satu tanggal Hijriyah di muka bumi sebagaimana kalender Masehi” ujar beliau.

Pengasuh Pondok Pesantren UII menegaskan bagaimana tahun baru Hijriyah telah menjadi bagian tradisi masyarakat Muslim Indonesia yang ditandai dengan munculnya beragam tradisi peringatan tahun baru Islam di Muslim Indonesia seperti Mubeng Beteng di Yogyakarta, Bubur Tajin (Tajin Sora) di Madura hingga Kanji Asyura di Aceh. Melalui berbagai macam tradisi ini, Ustadz Suyanto mengajak seluruh santri untuk mengambil makna edukatif atas peristiwa tahun baru hijriyah melalui pemaknaan masing-masing santri, “hal ini perlu kita lakukan karena Allah sebagai Rab memiliki makna yang begitu dekat dengan kata Taklim dan Tarbiyah yang sangat lekat dengan pendidikan” ujar beliau.

Sebelum menutup acara tersebut, Ustadz Asmuni menghimbau para santri untuk memanfaatkan momentum bulan Muharram untuk menambah pahala dengan melaksanakan puasa Tasu’a dan ‘Asyaro pada tanggal 9 dan 10 Muharram sebagai bentuk rasa cinta kepada Rasulullah dengan melaksanakan amalan Sunnah yang beliau ajarkan.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *