Oleh: Fisthi Fauziah

Rasanya sudah tidak asing lagi bagi masyarakat dengan istilah Covid-19 atau akrab disebut dengan Corona. Bagaimana tidak, virus yang berawal diduga berasal dari Negeri Tembok Raksasa kini menjadi asupan rutin tiap negara di dunia. Hal inilah yang kian menyebabkan tatanan baru negara-negara di dunia. Indonesia sendiri sudah menginjak pada usia kurang lebih 6 bulan dalam masa peredaran Covid-19. Beribu-ribu orang berguguran setiap harinya dan menghadapi perpisahan dengan orang-orang yang tersayang. Sampai hari inipun, menurut  berita yang dilansir dari detiknews pada tanggal 30 Agustus 2020, penyebaran kasus covid 19  di Indonesia pada tanggal 29 Agustus 2020 terdapat 3308 kasus baru, sehingga totalnya terdapat 169.196  kasus yang sudah terjadi di Indonesia (Damarjati, 2020). Banyak yang berpulang kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, namun banyak juga yang berhasil sembuh dari penyerangan virus ini. Berbagai cara sudah diusahakan oleh pemerintah, pihak medis, maupun masyarakat, seperti dengan membuat vaksin baru, pengetesan masal, dan penerapan protokol kesehatan lainnya. Hal ini tentu menimbulkan kondisi yang jauh berbeda dari sebelumnya.

Perubahan Tatanan Hidup

Dari kejadian banyaknya kasus covid-19 di Indonesia, tentu telah memberikan dampak yang begitu besar dalam berbagai aspek di Indonesia sendiri. Perubahan sedikit demi sedikit alih-alih justru mengejutkan. Sektor ekonomi jauh dari titik ekuilibrium, pendidikan bersekolah tidak lagi berbasis tatap muka, kegiatan bersosialisasi dibentengi masker dan jarak, para pekerja dituntut untuk berprofesi di dalam rumah, dan lain sebagainya. Tidak dipungkiri bahwa banyak dari kita yang kaget dengan keadaan yang merubah kondisi di segala aspek kehidupan. Hal ini menyebabkan beberapa kondisi dimana masyarakat berada pada “panic buying”, membeli sesuatu yang jarang dibeli sebelumnya, bahkan hingga rela minimbun persediaan barang yang dibutuhkannya.

Dalam aspek ekonomi khususnya, wabah ini telah membawa dampak yang sangat besar dan jelas bagi negara-negara di dunia dan para penduduknya. Bahkan menurut Sri Mulyani, perekonomian Indonesia pada kuartal II-2020 terkontrasi sangat dalam, yaitu sebesar -5,32% akibat dampak Covid-19. Hal ini dilatarbelakangi oleh kontraksi konsumsi rumah tangga dan investasi, dimana sektor konsumsi tercatat minus 5,6% dan investasi minus 8,6% (Sembiring, 2020). Maka untuk mendorong kembali perekonomian Indonesia, pemerintah rela merubah sistem PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) beralih kepada sistem New Normal, yang mana pada mulai bulan Juni pembatasan sosial mulai dilonggarkan dan aktivitas masyarakat dan perdagangan mulai berjalan.

Melihat kondisi New Normal, sudah selayaknya kita menerima dan beradaptasi dengan kondisi yang telah dialami dan terus berjalan ini. Sudah tidak panatas lagi beralasan untuk tetap tinggal diam dalam keterpurukan dan meratapi keadaan yang semestinya terjadi. Setiap era pasti memiliki perbedaan, dan perubahan pasti akan selalu ada. Namun pada tahun 2020 ini, kita hanya sedang dihadapkan pada perubahan yang cukup ekstrim sehingga menyebabkan ketidaksiapan para penghuni negri. Maka dalam menghadapi perubahan tatanan hidup seperti ini, sudah sepatutnya menanamkan 3 sikap berikut di dalam diri setiap individu yaitu, bersifat preventif (mencegah), responsif, dan mempunyai adaptabilitas. 

Melihat Peluang Dari Setiap Kejadian

Terkait dengan 3 sikap yang sepatutnya dimiliki oleh setiap individu sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, hakikatnya keadaan akan membawa kita kepada respon secara sadar atau tidak sadar. Maka itulah sebab diperlukannya sikap adaptabilitas terhadap suatu keadaan, karena inilah yang akan mampu memberikan respon yang positif bagi diri sendiri ataupun sekitar. Karena, hidup dipengaruhi oleh 10 persen apa yang terjadi dan 90 persen oleh bagaimana kita meresponnya. Keadaan setiap individu sama-sama sedang menghadapi serangan Covid-19, baik dalam hal menghadapi penyakit, krisis ekonomi, atau keresahan lainnya, namun yang membedakan adalah respon kita terhadap keadaan ini. Setiap dari  individu seharusnya dapat melihat peluang-peluang baru yang justru membawa kepada kebangkitan dan kesejahteraan. Banyak yang terenggut pekerjaannya akibat menipisnya atau bahkan hilangnya peluang pekerjaan, tapi banyak juga yang justru malah menemukan banyak peluang baru. 

Beberapa perubahan yang signifikan utamanya muncul pada pola konsumsi masyarakat. Keadaan tatanan hidup baru layaknya menjadikan manusia lebih mempertimbangkan pola konsumsi yang diprioritaskan dalam keadaannya sekarang, ditambah dengan pendapatan disposible setiap individu yang rata-rata menurun dari sebelumnya, dan juga masyarakat yang dibatasi untuk berinteraksi sosial dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Maka sejatinya, terkait perubahan konsumsi masyarakat yang baru ini, muncul pula peluang baru yang luas bagi para pebisnis. Tidak hanya berlaku untuk perusahaan besar dengan saham tinggi, namun juga berlaku bagi para masyarakat kecil dengan mengembangkan UKM (Usaha Kecil Menengah) yang dimilikinya.

Peluang tentang berbisnis ini didasari oleh keanekaragaman produk yang semakin terinovasi dan juga gaya belanja individu. Dalam inovasi keanekaragaman produk, dapat diambil contoh dari produk masker yang banyak kita jumpai di berbagai platform media sosial, bahwa semakin banyak online shop atau para pengusaha yang terus berinovasi hanya untuk memberikan kesan yang berbeda pada maskernya. Bahkan hal ini terjadi pada beberapa pengusaha yang malah sebelumnya bukanlah dari pengusaha masker ataupun pakaian. Kemudian selanjutnya tentang gaya belanja individu, bahwa kenyataanya di era pandemi ini masyarakat sangat meminimalisir interaksi langsung dengan orang lain. Hal inilah yang membuat banyak dari para konsumen lebih memilih untuk berbelanja secara online. Menurut data yang dikutip dari RedSeer, bahwa penggunaan layanan digital selama pandemi Covid-19 didominasi oleh e-commerce yang meningkat sebanyak 69% (IndoTelko, 2020).

Inovasi baru dan gaya belanja individu inilah yang selain memberikan peluang besar namun juga  patut diperhatikan dalam menentukan langkah ketika berbisnis di era sekarang. Maka yang perlu kita lakukan adalah dengan mengambil peluang di setiap perubahan yang diiringi dengan berbagai inovasi baru dan unik, serta menyeimbangi kemampuan dengan kemajuan era. Hal ini dapat dilakukan dengan berbisnis online di bidang makanan yang praktis (seperti cathering dan frozen food), protokol kesehatan, jasa logistik, dan lain sebagainya. Beberapa hal di atas  hanyalah sebagian kecil dari peluang yang bisa kita ambil di dalamnya. Marilah menjadi pribadi yang tidak hanya menerima keadaan, namun juga merespon keadaan dengan hal yang positif.

 

Daftar Pustaka

Damarjati, D. (2020, Agustus 30). Tembus 3 Ribu Per Hari, Begini Peningkatan Jumlah Kasus Corona Pekan Ini. Retrieved Agustus 30, 2020, from detiknews: https://news.detik.com/berita/d-5152501/tembus-3-ribu-per-hari-begini-peningkatan-jumlah-kasus-corona-pekan-ini

IndoTelko. (2020, Juli 26). Menatap bisnis logistik diantara eCommerce dan pandemi. Retrieved Agustus Senin, 31, from Indotelco.com: https://www.indotelko.com/read/1595736782/menatap-pandemi

Sembiring, L. J. (2020, Agustus 28). Update Sri Mulyani Soal Krisis Ekonomi Akibat Corona, Simak! Retrieved Agustus 30, 2020, from CNBC Indonesia: https://www.cnbcindonesia.com/news/20200828104326-4-182671/update-sri-mulyani-soal-krisis-ekonomi-akibat-corona-simak

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *