Pondok Pesantren UII Gelar Kajian Muharram: Menelisik Karbala dan Merefleksikan Hijrah Nabi Muhammad SAW

Menyambut datangnya pergantian tahun baru Islam, Direktorat Pondok Pesantren Universitas Islam Indonesia (UII) menyelenggarakan sebuah kajian keislaman bertajuk “Simbol Revolusi Melawan Kedzaliman” pada Senin (15/6). Kegiatan dilaksanakan secara terpisah di lingkungan asrama Pondok Pesantren UII yang berlokasi di Jl. Selokan Mataram, Condongcatur, serta Rusunawa Utara UII. Acara yang dilangsungkan ba’da salat Magrib ini dihadiri oleh jajaran asatidz dan santri yang antusias mengikuti rangkaian kegiatan dalam menyambut pergantian tahun Hijriyah.

Acara ini dibuka secara resmi dengan sambutan hangat dari Pengasuh Pondok Pesantren UII, Ust. Dr. Suyanto, S.Ag., M.S.I. Dalam pesannya, beliau menekankan pentingnya bagi para santri untuk merefleksikan sejarah Islam tidak sekadar sebagai rentetan peristiwa masa lalu, melainkan sebagai bekal moral dan intelektual yang relevan di era modern.

“Bulan Muharram ini tidak boleh hanya dimaknai sebagai pergantian kalender Hijriah semata, apalagi sekadar rutinitas perayaan tanpa makna. Di dalamnya terdapat sejarah besar tentang keteguhan iman, pengorbanan, dan keberanian melawan kebatilan yang harus menjadi spirit hidup para santri. Pondok Pesantren UII selalu menjunjung tinggi kebebasan akademik dan apresiasi terhadap diskusi keilmuan semacam ini, sehingga kajian ini sangat krusial untuk membuka wawasan kita bersama,” ungkap Ust. Suyanto di hadapan para hadirin.

Memasuki sesi utama, kajian ini menghadirkan pemikir Islam sekaligus pembicara, Ali Muthahari. Dalam prolognya, Ali sempat membagikan pengalaman pribadinya terkait diskriminasi yang pernah dialaminya di masa lalu, dan betapa ia sangat mensyukuri iklim kebebasan akademik di UII. Pengalaman tersebut menjadi jembatan baginya untuk membahas esensi kezaliman secara lebih mendalam.

Ali kemudian membedah makna Muharram dari kacamata filosofis dan sosiologis. Mengutip para pemikir dunia, ia menjelaskan mengapa peringatan sejarah umat Islam dipenuhi oleh simbol-simbol perlawanan. “Manusia didefinisikan oleh filsuf Ernst Cassirer sebagai Animal Symbolicum atau hewan simbolik. Artinya, kehidupan manusia tidak akan pernah lepas dari simbol-simbol,” papar Ali Muthahari. “Simbol bukanlah sesuatu yang nantinya disembah. Sebagaimana dijelaskan ahli sosiologi Émile Durkheim, simbol adalah sarana penting bagi manusia untuk menyimpan memori kolektif, mewariskan visi dan gagasan secara bersama, serta membangun relasi yang kuat antar individu yang memiliki tujuan yang sama.”

Lebih jauh, pemateri menjelaskan bagaimana memori kolektif tentang peristiwa berdarah di Padang Karbala yakni syahidnya cucu Baginda Nabi Muhammad SAW, Sayyidina Husein meninggalkan jejak mendalam dan terwujud dalam berbagai tradisi kebudayaan Nusantara. Ia mencontohkan berbagai daerah, mulai dari Bubur Hasan-Husein dan penganan berwujud pedang bernama Kue Boh Usen di Aceh, larangan menggelar pesta pernikahan di bulan Suro bagi masyarakat Jawa, tradisi Kebo Bule di Solo sebagai pengingat untuk menanggalkan kemewahan, hingga ritual Ma’atenu di komunitas muslim Maluku.

“Berbagai tradisi yang diwariskan leluhur ini membuktikan satu hal: Muharram bukan bulan untuk berpesta. Kematian Al-Husein dan tragedi di Karbala mengajarkan kita untuk memaknai sebuah kejatuhan dan kepedihan, bukan dengan keputusasaan. Justru, duka tersebut harus dikonversi menjadi motivasi dan keberanian yang bermakna, yaitu demi melanjutkan estafet perjuangan menumpas kezaliman dalam kondisi sesulit apa pun,” tegas Ali dengan penuh semangat.

Di pertengahan kajian, Ali Muthahari juga mengambil kesempatan untuk memberikan edukasi akademis dalam meluruskan pandangan di masyarakat awam mengenai penggunaan gelar penghormatan kepada keluarga Nabi (Ahlul Bait). Ia memaparkan bahwa penyebutan gelar Al-Imam dan Alaihissalam bagi Sayyidina Husein sering dipandang tabu, padahal memiliki dasar literatur yang sangat valid dalam tradisi Ahlussunnah wal Jamaah.

“Rasulullah SAW dengan tegas menyebut Hasan dan Husein sebagai Sayyida Syababi Ahlil Jannah atau pemimpin para pemuda di surga. Mengingat beliau adalah pemimpin di surga, tentu sangat rasional dan secara keilmuan sangat pantas jika beliau digelari Al-Imam di dunia,” jelas Ali. Ia juga merujuk pada legitimasi Al-Qur’an dalam Surah Al-Baqarah ayat 124 mengenai garis keturunan pimpinan bagi umat.

Menanggapi sentimen tentang sapaan Alaihissalam, Ali Muthahari merujuk pada kebiasaan ulama-ulama pakar hadis klasik. “Jarang diucapkan di Nusantara bukan berarti hal itu salah. Imam Al-Bukhari dalam kitab Shahih-nya serta para ulama pensyarah secara gamblang menuliskan sapaan Alaihimassalam atau Alaihissalam ketika menyebut nama Ali, Fatimah, Hasan, dan Husein. Oleh karena itu, kita sebagai umat Islam tidak perlu canggung apalagi saling menghakimi terkait penyebutan gelar penghormatan ini,” tambahnya.

Selanjutnya, Ali menambah argumennya mengenai besarnya musibah Karbala, Ali mengutip pandangan salah satu rujukan utama umat Islam. “Bahkan seorang ulama besar seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengeluarkan pernyataan yang amat tegas terkait kejadian ini. Beliau secara lugas melabeli orang-orang yang membunuh Husein di hari Asyura sebagai Al-Fajaratul Asyqiya, yakni para pendurhaka yang celaka,” pungkas Ali di sesi pemaparannya.

Kajian yang berlangsung khidmat, kritis, dan penuh kehangatan ini kemudian ditutup dengan sesi tanya jawab interaktif dan doa bersama. 

Sementara itu, kegiatan di lingkungan santri putri di awali dengan sambutan oleh pengasuh Pondok Pesantren Putri, Ustaz Tajul Muluk, yang mengajak para santri untuk memaknai Tahun Baru Hijriyah sebagai momentum memperkuat ghirah atau semangat dalam menjalankan identitas dan nilai-nilai keislaman. Menurutnya, pergantian tahun tidak semestinya dipandang sebagai rutinitas tahunan sementara, melainkan menjadi kesempatan untuk melakukan muhasabah dan mengevaluasi perjalanan diri selama setahun terakhir.

“Harusnya kita betu-betul ketika masuk dalam pergantian tahun itu ada kontemplasi, ada renungan, capaiannya apa,” ujar Ustaz Tajul. 

Beliau menjelaskan bahwa tradisi ulama dalam mengakhiri dan mengawali tahun selalu diiringi dengan refleksi diri serta persiapan untuk menjadi pribadi yang lebih baik pada masa yang akan datang. Oleh karena itu, semangat menyambut Tahun Baru Hijriah tidak diwujudkan dalam peringatan seremonial, tetapi juga melalui upaya memperbaiki kualitas keimanan dan kehidupan sehari-hari.

Lebih lanjut, Ustaz tajul mengaitkan makna hijrah dengan perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah. Menurutnya, hijrah tidak hanya bermakna perpindahan tempat, tetapi juga kemampuan untuk memberikan kontribusi positif di lingkungan yang baru.

“Kalau ada santri masuk ke sebuah pesantren, masuk dalam komunitas, mestinya belajar dari car hijrahnya Nabi, menjadi orang yang meng-influence kebaikan terhadap circle baru kita,” tuturnya.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan penyampaian materi oleh Ning Difani Wulan, yang mengulas hikmah dibalik hijrahnya Nabi Muhammad SAW. dalam pemaparannya, Mba Ning mengajak para santri untuk memahami bahwa hijrah tidak hanya dimaknai sebagai perpindahan tempat, tetapi juga sebagai proses perubahan diri menuju kualitas keimanan yang lebih baik.

Mba Ning menjelaskan bahwa perubahan tersebut berawal dari hati sebagai pusat pengendali kehidupan manusia. Mengutip hadis tentang pentingnya hati, “Kalau dia baik, maka seluruh perbuatan kita akan baik. Dan kebalikannya apabila hati itu buruk, maka buruk pula seluruh amal kita”. Mba Ning menekankan bahwa baik dan buruknya perilaku seseorang sangat ditentukan oleh kondisi hatinya.

“Hati harus menjadi pemimpin dari segala unsur dalam hidup kita, hati harus menjadi raja, hati yang harus mengendalikan seluruh perbuatan kita,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa hati tidak hanya dipahami sebagai organ biologis, melainkan juga memiliki dimensi spiritual yang menjadi tempat tumbuhnya keimanan, pengenalan kepada Allah SWT, serta kesadaran akan kebenaran. Melalui pemahaman tersebut, para santri diajak menjadikan momentum Tahun Baru Hijriah sebagai sarana untuk memperbaiki hati dan memperkuat hubungan dengan Allah SWT.

Kegiatan ditutup dengan refleksi yang mengingatkan para santri bahwa setiap manusia selalu memiliki kesempatan untuk kembali kepada Allah SWT. “Sejauh apa pun kamu melangkah, Allah akan tetap mendekapmu jika kamu kembali,” menjadi pesan penutup yang mengiringi rangkaian peringatan Tahun Baru Hijriah di lingkungan santri putri.

Melalui penyelenggaraan forum keilmuan semacam ini, Pondok Pesantren UII menegaskan komitmennya untuk mencetak generasi santri yang tidak hanya cakap menguasai dalil secara tekstual, tetapi juga berwawasan luas, toleran, serta mampu menyerap nilai-nilai heroisme dan semangat keadilan universal yang telah diwariskan oleh Rasulullah SAW dan keluarga sucinya. (MFPS/ZNA)

 

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *