TA Tanpa Skripsi: Kisah Mahasantri PP UII Lulus Cepat Jalur Jurnal

Berdasarkan kebijakan  Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia (FH UII) menyelesaikan tugas akhir kini tak lagi hanya terpaku pada format skripsi, melainkan dapat dieksplorasi melalui jalur karya tulis ilmiah yang dipublikasikan. Muhammad Irfan Dhiaulhaq AR. Mahasantri Pondok Pesantren Universitas Islam Indonesia (PP UII) sekaligus Mahasiswa FH UII yang akrab disapa Irfan ini membuktikan bahwa ada jalan lain menuju gelar sarjana yang tak kalah prestisius jalur publikasi ilmiah.

Sabtu (26/04), di bawah kemegahan Auditorium Abdul Kahar Muzakkir, Irfan resmi menyandang gelar sarjana pada Wisuda Periode IV Tahun Akademik 2024/2025. Bukan sekadar lulus, ia mencatatkan prestasi gemilang dengan IPK 3,73 dan durasi studi yang sangat efisien, yakni hanya 3 tahun 3 bulan.

Konversi Jurnal: Menyoroti Keseimbangan Ekonomi dan Ekologi

Alih-alih menyusun skripsi, Irfan mengonversi Tugas Akhir (TA) miliknya melalui sebuah jurnal ilmiah. Bersama dosen pembimbingnya, Dodik Setiawan Nur Heriyanto, S.H., M.H., LL.M., Ph.D., ia melahirkan karya berjudul “Striking A Balance Between Job Creation And Sustainability: The Need To Establish A True Environmental Protection Authority in Indonesia”.

Penelitian yang diterbitkan di Jambe Law Journal (SINTA 2) ini membedah isu krusial dalam UU No. 6 Tahun 2023 tentang Cipta Kerja. Irfan menyoroti bagaimana penyederhanaan izin lingkungan dan pengurangan kewajiban AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan) berisiko merusak ekosistem. Melalui pendekatan hukum normatif, ia menawarkan solusi progresif, yakni pembentukan Otoritas Perlindungan Lingkungan yang independen di Indonesia.

Proses kreatif ini memakan waktu enam bulan, terhitung sejak September 2024 hingga Maret 2025. Waktu tersebut dihabiskan untuk riset mendalam, menghadapi revisi mayor maupun minor dari reviewer, hingga tahap publikasi.

“Sangat padat dan seru tentunya, karena penelitian menunjukkan kebaharuan bidang yang belum dikaji sebelumnya. Tentunya untuk tahap persiapan sudah dimulai jauh-jauh hari sejak semester 5,” ucap Irfan saat diwawancarai.

Lika-liku Berburu Informasi 

Perjalanan Irfan tidaklah mulus tanpa hambatan. Tantangan terbesarnya terletak pada konsistensi data yang harus sinkron dengan rumusan masalah, terutama karena ia menggunakan data perbandingan dari Australia.

“Karena data yang saya dapat terkhusus kepada Australia, jadi terkemudian selalu sering cek web dari australianya atau menerima nara sumber dari sananya, bisa melalui seminar yang diadakan secara bebas maupun email pribadi kepada institusi terkait,” ujarnya menjelaskan rumitnya pengumpulan data internasional.

Resep “Lulus Kilat” ala Irfan

Keberhasilan Irfan bukanlah sebuah kebetulan. Ia memiliki strategi matang yang bisa ditiru oleh mahasiswa lainnya. Menurutnya, kunci pertama adalah menyelesaikan segala kesibukan organisasi atau ekstrakurikuler di semester 6 agar bisa fokus penuh pada penulisan tugas akhir.

Kedua, ia menekankan pentingnya penguasaan mata kuliah Metode Penelitian. Ia menyarankan agar proposal tugas akhir sudah matang dan siap diajukan segera setelah semester 6 berakhir. Ketiga, faktor pembimbing sangat menentukan.

“Temukan dosen yang cocok dengan bidang yang diminati, karena hal ini akan mempengaruhi proses bimbingan,” tambahnya. Selain itu, memilih lingkaran pertemanan yang memiliki visi “lulus tepat waktu” dan menjaga spiritualitas lewat ibadah serta doa orang tua adalah fondasi yang tak boleh ditinggalkan.

Di akhir percakapan, Irfan menitipkan pesan bagi rekan-rekan seperjuangannya yang masih berjibaku dengan bangku kuliah.

“Selalu berusaha jadi gelas kosong, keep absorbing from around, yang terpenting adalah learn more, show less. imperfection shapes us the best”,” pungkasnya.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *