Tiga Santri PP UII Lolos Pendanaan PKM Nasional Lewat Program ENVOICE untuk Tingkatkan Komunikasi Asertif Santri
Tiga santri Pondok Pesantren Universitas Islam Indonesia (PP UII) berhasil meraih pendanaan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) tingkat nasional tahun 2026 melalui skema Pengabdian kepada Masyarakat (PKM-PM). Ketiga santri tersebut ialah Kamalia Salsabila (Hubungan Internasional IP 2024), Elsha Sabara Fajaristy (Pendidikan Bahasa Inggris 2024), dan Arif Ardiansyah (Ilmu Komunikasi IP 2025).
Bersama dua anggota tim lainnya, yakni Maulana Fazlurrahman Arif (Hubungan Internasional IP 2024) dan Abidah Hasanah (Hubungan Internasional IP 2024), mereka mengusung program bertajuk “ENVOICE: Program Peningkatan Komunikasi Asertif dan Literasi Digital Santri Berbasis Simulasi Kartu di Pondok Pesantren Bima Bhakti” di bawah bimbingan Farhan Abdul Majid, S.Sos., M.A.
Ketua tim, Kamalia Salsabila, menjelaskan bahwa program ENVOICE lahir dari hasil identifikasi permasalahan yang ditemukan langsung di Pondok Pesantren Bima Bhakti sebagai mitra program. Menurutnya, kehidupan di lingkungan asrama memiliki dinamika sosial yang cukup tinggi sehingga tidak jarang terjadi konflik antarsantri akibat persoalan sederhana.
Selain itu, keterbatasan akses terhadap perangkat elektronik membuat santri belum terbiasa menyaring informasi secara kritis sehingga lebih rentan mempercayai informasi yang keliru. Berangkat dari kondisi tersebut, tim mengembangkan media pembelajaran berbasis simulasi kartu yang terinspirasi dari permainan Truth or Dare.
“Setiap kartu berisi gambaran masalah atau konflik yang harus dicari solusinya. Melalui media ini, santri belajar menyelesaikan kasus nyata yang terjadi di lingkungan pondok secara berkelompok sehingga pola komunikasi mereka bisa berubah dari yang awalnya reaktif menjadi lebih tegas, sopan, dan bertanggung jawab,” ujar Salsa.
Ia menuturkan bahwa proses penyusunan proposal tidak berjalan mudah. Setelah membentuk tim, mereka menyadari seluruh anggotanya merupakan alumni pondok pesantren sehingga sepakat menjadikan pesantren sebagai fokus pengabdian. Tantangan terbesar muncul ketika penyusunan proposal karena draf awal dinilai belum sesuai dengan format PKM.
Tim kemudian memutuskan menyusun ulang proposal dari awal, mempelajari kembali pedoman penulisan, serta aktif meminta masukan kepada kakak tingkat PP UII yang telah berpengalaman lolos pendanaan PKM. Berkat kerja sama tim, bimbingan dosen, dan berbagai masukan yang diterima, proposal ENVOICE akhirnya berhasil memperoleh pendanaan tingkat nasional.
Menurut Kamalia, koordinasi tim juga menjadi tantangan tersendiri karena proses penyusunan berlangsung pada masa liburan. Seluruh anggota tim, dosen pembimbing, dan mitra berada di lokasi yang berbeda sehingga komunikasi harus dilakukan secara daring melalui WhatsApp dan Zoom.
Kamalia menambahkan, lingkungan PP UII turut memberikan dukungan selama proses persiapan PKM. Kehadiran banyak mahasiswa berprestasi yang pernah mengikuti PKM memudahkan tim untuk berdiskusi dan memperoleh arahan dalam menyempurnakan proposal.
Ia berharap keberhasilan ini dapat menjadi motivasi bagi santri PP UII dan mahasiswa UII lainnya untuk berani mengikuti PKM.
“Jangan ragu untuk mencoba mengikuti PKM di tahun depan. Yang paling penting adalah membangun tim yang kompak, memiliki visi yang sama, dan bertanggung jawab. Manfaatkan juga pengalaman kakak tingkat untuk terus belajar dan menyempurnakan proposal yang disusun,” pesannya. (MFPS)




Leave a Reply
Want to join the discussion?Feel free to contribute!