TALASCA: Dari Diskusi Sederhana hingga Pendanaan Nasional P2MW 2026
Yogyakarta — Di tengah kesibukannya sebagai mahasiswa Fakultas Ilmu Agama Islam sekaligus penerima Beasiswa Santri Berprestasi, Tara Aqila Humayra tidak pernah membayangkan bahwa sebuah diskusi sederhana bersama teman-temannya akan membawanya pada capaian prestasi tingkat nasional. Bersama empat mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia (UII), ia mengembangkan TALASCA, inovasi peralatan makan ramah lingkungan yang berhasil memperoleh pendanaan dalam Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) 2026.
Semua berawal dari ajakan salah satu anggota tim untuk mengikuti program tersebut. Saat itu, belum ada konsep usaha yang benar-benar matang. Mereka hanya memiliki keinginan yang sama: mencoba sesuatu yang baru dan menciptakan karya yang bermanfaat. Dari serangkaian diskusi yang dilakukan bersama, perlahan lahirlah sebuah gagasan yang kemudian menjadi fondasi TALASCA.
Ide tersebut muncul dari kegelisahan mereka terhadap persoalan sampah plastik yang masih menjadi tantangan besar di Indonesia. Mereka ingin menghadirkan alternatif yang lebih ramah lingkungan, tetapi tetap memanfaatkan bahan-bahan yang mudah ditemukan di sekitar. Dari situlah muncul gagasan untuk mengembangkan peralatan makan berbasis bahan alam yang dapat terurai secara alami.
TALASCA kemudian dirancang sebagai eco cutlery yang terbuat dari pati umbi talas dan ampas tebu, serta diperkaya dengan ekstrak kayu secang. Selain berfungsi sebagai pengganti peralatan makan plastik sekali pakai, produk ini juga memanfaatkan sumber daya lokal yang melimpah sehingga memiliki nilai keberlanjutan yang lebih tinggi.
Di balik lahirnya TALASCA, terdapat kolaborasi unik antara mahasiswa dari dua disiplin ilmu yang berbeda. Tara yang berasal dari Fakultas Ilmu Agama Islam bekerja bersama empat mahasiswa Fakultas Kedokteran. Perbedaan latar belakang tersebut justru menjadi kekuatan utama tim. Setiap anggota membawa sudut pandang, pengalaman, dan cara berpikir yang berbeda, sehingga proses pengembangan ide menjadi lebih kaya dan komprehensif.
Bagi Tara, kesempatan untuk terlibat dalam tim ini menjadi ruang untuk mengamalkan nilai-nilai yang selama ini ia pelajari dalam lingkungan pendidikan dan beasiswa yang dijalaninya.
“Bagi saya, berprestasi bukan hanya soal nilai akademik, tetapi juga bagaimana bisa berkontribusi lewat karya nyata. Ketika diajak bergabung, saya melihat ini sebagai peluang untuk belajar sekaligus mengamalkan apa yang saya dapatkan selama ini,” ujarnya.
Namun, perjalanan mereka tidak selalu berjalan mulus. Tantangan mulai terasa ketika proses seleksi internal berlangsung bertepatan dengan bulan Ramadan. Sebagian anggota tim berada di kampung halaman masing-masing sehingga seluruh proses diskusi, penyusunan proposal, hingga koordinasi harus dilakukan secara daring.
Di saat yang sama, mereka juga harus berhadapan dengan padatnya aktivitas akademik masing-masing. Tara harus membagi waktu antara perkuliahan dan berbagai kegiatan di lingkungan pondok pesantren, sementara rekan-rekannya dari Fakultas Kedokteran disibukkan dengan jadwal kuliah, praktikum, dan tugas yang tidak kalah padat.

Suasana diskusi dan bimbingan tim TALASCA bersama dosen pembimbing dalam menyusun proposal usaha dan mengembangkan ide produk TALASCA. (Dok. Pribadi)
Meski demikian, berbagai keterbatasan tersebut tidak menyurutkan semangat mereka. Komunikasi yang intens dan pembagian tugas yang jelas menjadi kunci agar seluruh proses tetap berjalan.
“Kami mengatasi hal ini dengan menjaga komunikasi yang sangat intens, menyusun jadwal pertemuan yang fleksibel, serta membagi tugas sesuai kemampuan masing-masing. Setiap waktu luang kami manfaatkan seefektif mungkin. Kuncinya adalah komitmen dan kerja sama tim yang kuat,” tutur Tara.
Dalam proses tersebut, tim juga mendapatkan pendampingan dari dosen pembimbing yang terus memberikan arahan dan masukan selama penyusunan proposal. Setelah melalui tahapan seleksi internal kampus, pembinaan, serta berbagai revisi, proposal TALASCA akhirnya diajukan ke tingkat nasional.
Usaha mereka pun berbuah manis. Di tengah persaingan ribuan proposal dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia, TALASCA berhasil dinyatakan lolos dan memperoleh pendanaan P2MW 2026. Kabar tersebut menjadi salah satu momen paling membahagiakan bagi seluruh anggota tim setelah melewati berbagai proses yang panjang dan penuh tantangan.
Lebih dari sekadar pencapaian pendanaan, pengalaman ini meninggalkan pelajaran berharga bagi Tara dan rekan-rekannya. Mereka belajar bahwa perbedaan latar belakang bukanlah penghalang untuk bekerja sama. Justru dari perbedaan itulah lahir berbagai gagasan baru yang memperkuat kualitas inovasi yang mereka kembangkan.





Leave a Reply
Want to join the discussion?Feel free to contribute!