PP UII Tebar Manfaat Melalui Bakti Sosial Iduladha 1447 H di Kemalang

Dalam rangka memperingati Iduladha 1447 H, Pondok Pesantren Universitas Islam Indonesia (PP UII) melaksanakan kegiatan bakti sosial di Desa Tegalsari, Bawukan, Kemalang, Klaten, pada 26–27 Mei 2026. Kegiatan yang melibatkan 24 santri tersebut menjadi bagian dari upaya pengabdian masyarakat yang tidak hanya diwujudkan melalui pelaksanaan kurban, tetapi juga melalui berbagai kegiatan keagamaan untuk mempererat silaturahmi dan menghidupkan semangat kebersamaan bersama warga setempat.
Rangkaian kegiatan diawali pada 26/5/2026 dengan khatmil Qur’an yang melibatkan santri dan masyarakat setempat. Kegiatan tersebut berlangsung dalam suasana khidmat dan menjadi ruang kebersamaan bagi warga untuk berkumpul di masjid. Setelah khatmil Qur’an, kegiatan dilanjutkan dengan buka puasa Arafah bersama yang dihadiri oleh masyarakat dan santri PP UII.
Puncak kegiatan pada hari pertama ditandai dengan pelaksanaan tabligh akbar yang dihadiri oleh masyarakat setempat. Acara diawali dengan sambutan dari Takmir Masjid At-Taqwa, Bapak Nanang, yang menyampaikan apresiasi atas kehadiran santri PP UII dan berharap kegiatan semacam ini dapat memberikan manfaat bagi masyarakat. Selanjutnya, Pengasuh Pondok Pesantren UII Putra, Ustaz Suyanto, memperkenalkan para santri yang terlibat dalam kegiatan bakti sosial sekaligus mengajak masyarakat untuk mempererat silaturahmi dan kebersamaan melalui momentum Iduladha.
Pada malam harinya, masyarakat mengikuti tabligh akbar yang disampaikan oleh Pengasuh Pondok Pesantren UII Putri, Ustaz Tajul Muluk. Dalam tausiyahnya, beliau mengajak jamaah meneladani keteguhan tauhid Nabi Ibrahim AS yang berani mempertahankan keyakinannya di tengah lingkungan yang menyekutukan Allah SWT. Menurutnya, keberanian Nabi Ibrahim untuk mempertanyakan praktik penyembahan berhala yang dilakukan kaumnya menunjukkan pentingnya menggunakan akal sehat dalam mencari dan meyakini kebenaran. “Ketika Nabi Ibrahim bilang ke bapaknya, ‘Pak njenengan iku kadose niku rodo mumet pak,’ sejak saat itu Nabi Ibrahim mencari Tuhannya,” ungkapnya saat menjelaskan proses pencarian kebenaran yang dilalui Nabi Ibrahim AS.
Pada malam harinya, masyarakat mengikuti tabligh akbar yang disampaikan oleh Pengasuh Pondok Pesantren UII Putri, Ustaz Tajul Muluk. Dalam tausiyahnya, beliau mengajak jamaah meneladani keteguhan tauhid Nabi Ibrahim AS yang berani mempertahankan keyakinannya di tengah lingkungan yang menyekutukan Allah SWT. Menurutnya, keberanian Nabi Ibrahim untuk mempertanyakan praktik penyembahan berhala yang dilakukan kaumnya menunjukkan pentingnya menggunakan akal sehat dalam mencari dan meyakini kebenaran. “Ketika Nabi Ibrahim bilang ke bapaknya, ‘Pak njenengan iku kadose niku rodo mumet pak,’ sejak saat itu Nabi Ibrahim mencari Tuhannya,” ungkapnya saat menjelaskan proses pencarian kebenaran yang dilalui Nabi Ibrahim AS.
Tausiyah kemudian disampaikan oleh Pengasuh Pondok Pesantren UII Putri, Ustaz Tajul Muluk. Dalam ceramahnya, beliau mengajak jamaah untuk melihat kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS bukan sekadar sebagai peristiwa sejarah, melainkan sebagai pelajaran yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Menurutnya, keteguhan tauhid Nabi Ibrahim AS lahir dari keberanian untuk berpikir, mempertanyakan hal-hal yang tidak masuk akal, dan terus mencari kebenaran meskipun berada di tengah lingkungan yang berbeda.
Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa ketaatan Nabi Ismail AS ketika menerima perintah Allah SWT untuk dikurbankan tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan merupakan hasil dari proses pendidikan dan keteladanan yang telah dibangun oleh Nabi Ibrahim AS sejak lama. “Nabi Ismail kok mau disembelih? Karena Nabi Ismail adalah buah, Nabi Ismail seperti itu bukan datang secara tiba-tiba,” ujarnya.
Menurut beliau, konsistensi Nabi Ibrahim dalam menjaga prinsip dan keyakinannya sejak usia muda menjadi teladan yang terus dilihat dan dipelajari oleh putranya. “Nabi Ibrahim saat kecil, remaja, dewasa konsisten dengan prinsipnya. Itulah yang dilihat oleh putranya,” tambahnya.
Menurutnya, keberhasilan Nabi Ibrahim AS dalam mendidik Nabi Ismail AS menunjukkan bahwa lahirnya generasi yang baik memerlukan ikhtiar dan keteladanan yang dimulai dari diri sendiri. “Nek awak dewe kepengen putra putrine apik, ya memang dari sekarang. Kalo njenengan sudah punya anak, kok kepengen ada perubahan menjadi yang lebih baik, ya memang kita yang harus mengupayakan,” tuturnya. Oleh karena itu, ia mengingatkan bahwa kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS bukan hanya tentang pengorbanan, tetapi juga tentang tanggung jawab setiap orang dalam mempersiapkan generasi yang lebih baik di masa depan.
Kegiatan hari pertama ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Ustaz Muhammad Anas.
Keesokan harinya, para santri bersama masyarakat melaksanakan Salat Iduladha berjamaah di lapangan balai desa. Setelah pelaksanaan salat, kegiatan dilanjutkan dengan penyembelihan hewan kurban yang menjadi puncak rangkaian peringatan Iduladha 1447 H.
Sebanyak tujuh ekor kambing disembelih dalam kegiatan tersebut. Santri dan masyarakat bergotong royong dalam setiap tahapan pelaksanaan kurban, mulai dari penyembelihan, pemotongan daging, hingga pengemasan untuk didistribusikan.
Selain membantu proses distribusi daging kurban, para santri juga terlibat dalam berbagai pekerjaan lainnya, seperti menyiapkan konsumsi, memasak, dan membersihkan area kegiatan. Kebersamaan yang terbangun selama pelaksanaan kurban menunjukkan semangat gotong royong yang menjadi salah satu nilai utama dalam perayaan Iduladha.
Ketua Pelaksana, Hidayatas Sebyan, menyampaikan bahwa kegiatan bakti sosial ini tidak hanya berorientasi pada pelaksanaan kurban, tetapi juga menjadi bagian dari upaya mempererat hubungan antara Pondok Pesantren UII dan masyarakat.
Menurutnya, kehadiran para santri di Desa Tegalsari merupakan bentuk pengabdian yang diharapkan dapat memberikan manfaat bagi warga sekaligus menghidupkan semangat keislaman di lingkungan setempat.
“Kedatangan kita ke sana tidak hanya membawa hewan kurban, tapi juga membawa syiar Islam,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa kegiatan tersebut menjadi pengalaman yang berkesan bagi seluruh panitia dan santri yang terlibat. Selain dapat melaksanakan kurban bersama masyarakat, para santri juga memperoleh kesempatan untuk belajar hidup bermasyarakat, membangun kedekatan dengan warga, serta merasakan secara langsung makna pengabdian di tengah masyarakat.
Byan berharap kegiatan tersebut tidak berhenti pada peringatan Iduladha tahun ini saja. Menurutnya, hubungan yang telah terjalin antara Pondok Pesantren UII dan masyarakat Desa Tegalsari perlu terus dijaga melalui berbagai bentuk kolaborasi dan kegiatan keagamaan pada masa mendatang.
“Harapannya adalah semoga ini bukan terakhir kali santri PP atau lebih tepatnya secara umum Pondok UII menjalin silaturahim dengan Desa Tegalsari Bawukan Kemalang,” tuturnya.
Ia juga berharap kehadiran PP UII dapat memberikan kontribusi bagi perkembangan aktivitas keagamaan di lingkungan setempat. “Dari masjid dan gereja yang saling berhadapan-hadapan itu ya sudah seharusnya masjidnya juga rame, enggak cuma gerejanya aja,” tambahnya.
Melalui kegiatan bakti sosial Iduladha 1447 H ini, Pondok Pesantren UII tidak hanya menyalurkan hewan kurban, tetapi juga membangun ruang perjumpaan antara santri dan masyarakat. Kebersamaan yang terjalin selama dua hari pelaksanaan menjadi wujud nyata bahwa syiar Islam dapat hadir melalui kepedulian, pelayanan, dan gotong royong, sekaligus memperkuat ukhuwah di tengah kehidupan bermasyarakat. (ZNA)

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *