Mahabbah Thabi’iyyah Boleh, Asal Tidak Berbenturan dengan Mahabbatullah

 

 

vs

 

 

 

Oleh: Ikma Nur Fa’izah

Pernah tidak terbesit suatu pertanyaan mengenai kecintaan kita terhadap suatu hal yang bersifat duniawi? Itu ternyata boleh-boleh saja loh! Eitss.. Ada tapinya, boleh saja kita mencintai hal duniawi akan tetapi juga harus tahu batasan serta jangan sampai membutakan dan membuat kita lupa untuk bersyukur kepada Allah SWT yaa! Menurut Ibnu Qayyim, ulama besar Islam yang menulis sebuah kitab berjudul “Raudhatul Muhibbin wan Nauzah Musytaqin” menyebutkan adanya beberapa jenis cinta dalam Islam. Cinta sendiri merupakan sesuatu yang sudah menjadi fitrah bagi setiap makhluk hidup. Cinta dapat diartikan sebagai sebuah emosi dan kasih sayang serta ketertarikan pribadi, sedangkan dalam bahasa arab cinta diistilahkan dengan mahabbah berasal dari kata hubb artinya mendampingi atau menyertai.

Sebelum membahas mengapa mahabbah thabi’iyyah itu boleh, mari kita gali terlebih dahulu pengertiannya. Dalam kitab karangannya, Ibnu Qayyim menyebutkan jenis mahabbah ini dalam urutan kelima yang maknanya adalah cinta manusiawi atau cinta yang merupakan tabiat dan fitrah manusia, seperti kecintaan manusia terhadap keluarganya, anaknya, saudaranya, dan kecintaan kepada orang yang berbuat baik kepadanya. Cinta jenis ini haruslah memiliki batasan khusus yang dapat membentengi kita dari kebutaan dan lupa akan rasa syukur kepada Allah SWT. Dalam QS.Al-Munafiqun ayat 9, Allah berfirman yang artinya “Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi.” Dari ayat ini, telah jelas disebutkan bahwa sebagai orang yang beriman janganlah kita sampai terbutakan oleh kecintaan terhadap harta maupun anak keturunan kita, karena jika demikian sesungguhnya kita dalam keadaan merugi.

Yang dimaksud boleh untuk mencintai hal yang bersifat duniawi adalah ketika kita dengan secukupnya mencintai kasih sayang dan nikmat yang diberikan oleh Allah seperti keluarga yang harmonis, kesempatan belajar yang nyaman, dan sebagainya. Dengan selalu mengucapkan rasa syukur dan menjaga diri dari sifat takabur, ini adalah sebenar-benarnya maksud dari diperbolehkannya mahabbah thabi’iyyah yakni mencintai secukupnya tanpa melupakan rasa syukur dengan melaksanakan ibadah amal sholeh terhadap Allah SWT. 

Sedangkan mahabbatullah atau cinta kepada Allah adalah jenis cinta yang pertama. Ibnu Qayyim dalam kitab karangannya menyebutkan bahwa mencintai Allah dengan segala keagungan-Nya itu sudah menjadi hal yang selayaknya diterapkan oleh para Muslim bahkan menjadi suatu kewajiban yang nyata. Akan tetapi, cinta kepada Allah saja tidaklah cukup. Orang-orang musyrik, penyembah salib, umat Yahudi, dan yang lainnya juga mengaku cinta pada Allah dengan pemahaman masing-masing dari mereka, seperti firman Allah dalam QS. Al-Maidah ayat 18 yang artinya “Orang-orang Yahudi dan Nasrani mengatakan: “Kami ini adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya”. Katakanlah: “Maka mengapa Allah menyiksa kamu karena dosa-dosamu?” (Kamu bukanlah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya), tetapi kamu adalah manusia(biasa) diantara orang-orang yang diciptakan-Nya. Dia mengampuni bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Kepunyaan Allah-lah kerajaan antara keduanya. Dan kepada Allah-lah kembali (segala sesuatu). Maka sudah sangat jelas disebutkan dalam ayat tersebut, bahwa mencintai Allah saja tidak cukup untuk menyelamatkan kita dari adzab yang pedih. 

Mencintai Allah haruslah disertai dengan pengakuan ke-Esa-an dan ibadah terhadap-Nya. Menjauhi segala larangannya dan mencoba sebaik mungkin melaksanakan perintah-Nya. Beribadah kepada Allah agar rasa cinta itu tumbuh mekar bersamaan dengan rasa syukur terhadap segala nikmat-Nya adalah upaya yang dapat dilakukan untuk menghindari siksa api neraka. Menghindarkan diri dari perbuatan maksiat agar mendorong diri kita untuk fokus terhadap hal-hal yang bersifat ibadah kepada Allah juga merupakan cara agar kita terselamatkan dari adzab Allah. 

Jadi gimana? Cinta ayah, ibu, adik, kakak, dan orang terkasih itu boleh-boleh aja, boleh banget malah asal tidak sampai pada titik yang dapat mengurangi kecintaan kita pada Allah SWT. Cinta kepada Allah dan senantiasa selalu beribadah dengan mengakui ke-Esa-an Nya  itu juga tidak kalah penting, maka dengan itu kita harus bisa mengatur kecintaan kita terhadap Allah dengan kecintaan kepada hal yang manusiawi agar tidak saling berbenturan satu sama lain. 

Penulis merupakan santriwati Pondok Pesantren UII Putri dan mahasiswi Program Studi Hubungan Internasional Program Internasional, Fakultas Psikologi dan Sosial Budaya UII.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *